Kamis, 02 Mei 2013

Kutitipkan Pesan pada Semesta

Hai embun, selamat pagi. Apa kabar hari ini? Masih setia datang dan menyejukkan pagi sekalipun sebentar kemudian kamu akan diuapkan sang mentari? Masih? Sepertinya memang masih, sebab kulihat dedaunan di teras rumahku berkilat-kilat ditempa sinar. Artinya kamu masih hadir. Sebenarnya, aku ingin menitipkan salam, untuknya yang sedang jauh. Mungkinakah kamu bisa menyampaikan pada embun-embun yang lain? Bahwa pagi ini pun, ketika aku terbangun, aku masih mengingatnya. Dia juga suka tanaman, sama sepertiku. Jadi, mungki saja, ketika suatu pagi, dia menyentuh embun-embun yang lain, dia juga aka teringat padaku.

Hai angin, ini sudah persinggahanmu yang ke berapa? Sudahkah kamu lelah dengan jutaan kilometer perjalananmu? Kurasa jawabannya tidak, sebab baru saja kamu menghampiri rambutku yang tergerai, membuatnya sedikit bergerak-gerak, seperti dibelai lembut. Aku ingin kamu kabarkan keberadaanku di sini kepadanya. Kepadanya yang begitu menyukaimu. Dia hampir tidak memakai AC ketika berkendara dengan mobilnya. Ketika kutanya, dia hanya menjawab "Aku suka angin," begitu katanya. Jadi dia hanya akan membuka kaca lebar-lebar, dan menikmati perjalanan bersama angin kesukaannya.



Halo senja, masih menikmati pesonamu yang memikat banyak orang? Sepertinya iya, karena hari inipun kamu masih saja indah. Mungkinkah kamu bisa membuatnya ingat? Membuatnya ingat bahwa dia jatuh cinta kepadaku di waktu senja. Di suatu senja yang sangat indah, yang aku dan dia nikmati di taman dekat rumahku, dia mengungkapkan perasaannya. Dia jatuh cinta kepadaku. Sejak dulu dia menyukai senja. Dia suka mengajakku berburu foto. Foto apa lagi kalau bukan foto langitmu yang memerah, foto arak-arakan awanmu yang seperti menyambut turunnya malam secara perlahan. Mungkinkah kamu merekam semua kejadian itu dan menghadirkannya dalam senja yang juga sedang dinikmatinya saat ini?

Hei, hujan. Aku ingin kamu tahu bahwa aku suka sekali aroma tanah basah yang kau hujam dari atas sana. Aku juga suka melihat rintik-rintikmu yang jatuh perlahan, menghadirkan irama-irama yang mendamaikan hati. Dia juga suka padamu. Katanya, hujan membuat suasana jadi romantis, dan dia jadi punya banyak inspirasi ketika kamu datang. Biasanya, dia akan memintaku mengambilkan gitar dan secarik kertas. Dengan dua gelas teh hangat yang selalu ada ketika kita menikmati hujan, kamu sesekali menyeruputnya, lalu mengambil napas dalam-dalam, seperti menyesap inspirasi dari hawa dingin yang kamu hadirkan. Tak lama, pasti secarik kertas itu sudah bertuliskan lirik lagu, dan kemudian dia nyanyikan untukku. Mungkinkah, ketika kamu nanti merintik di teras rumahnya, kamu bisa menyampaikan pesanku untuknya? Jika bisa, turunlah di tubuhnya, lalu meresaplah ke dalam hatinya, sampaikan bahwa aku masih menunggunya.

Bintang, apa kabarmu malam ini? Kamu tampak sangat terang, mungkin kamu sedang sangat girang dan bersemangat, sebab malam kemarin begitu kelabu, mendung membuat sinarmu tidak sampai ke bumi. Aku masih hapal benar saran ajaibnya yang selalu berhasil ketika aku sedang gundah atau hilang semangat. Satu pesan pasti dikirimnya "Lihat ke langit, deh, ada yang bagus di sana :)". Lalu aku, yang sebenarnya selalu tahu kalau maksudnya adalah menunjukkan bintang, juga tak pernah merasa bosan untuk selalu membuka pintu balkon, lalu menengadah ke langit. Layar maha luas yang menghadirkan cahaya-cahaya mempesona di waktu malam. Mungkinkah kamu bisa menyampaikan pesanku untuknya, bintang? Lewat cahayamu, bukalah mata hatinya, bahwa dalam kerlip-kerlip bintang sama-sama aku dan dia lihat, ada kerinduanku, yang menembus jarak, mencoba menemukannya.

Tuhan, kutitipkan pesan-pesanku pada semesta.. :)

2 komentar: